Bel masuk telah berbunyi itu menandakan bahwa
pelajaran pertama akan segera dimulai, namun terlihat Moza sedang berlari
tergesa-gesa melewati koridor sekolah. Dengan cepat dia berlari dan berharap
supaya tidak terlambat masuk jam pertama pelajaran Matematika. Dia takut jika
Bu Citra yang terkenal galaknya telah sampai duluan ke kelas. Karena kecepatan
lari Moza yang melampauin batas dia tidak bisa memberhentikan kakinya dan
“Gubraak..” Moza menabrak Bu Citra yang sedang berjalan masuk kelas. Wajahnya
yang memerah seperti kepiting rebus menandakan dia tidak bisa menyembunyikan
rasa malunya itu. “aduuh.. maaf Bu, saya tidak sengaja” ucap Moza merasa
bersalah. “kamu ini bagaimana sih, kalau jalan liat-liat dong” jawab Bu Citra
marah. “maaf Bu, saya takut terlambat masuk kelas” saut Moza dengan wajah
yang takut. “sudah berkali-kali kamu
terlambat masuk kelas, sekarang cepat lari puterin lapangan 10 kali!” tegas Bu
Citra. “tapi Bu, saya kan…” belum sempat Moza melanjutkan ucapannya, Bu Citra
langsung berkata “cepaaat..!!!”. Dengan segera Moza berlari memutari lapangan
dan menahan rasa malu. Semua siswa langsung pada keluar dan melihat aksi Moza
di lapangan, “ini benar-benar memalukan” keluh Moza dalam hati. Putaran ke 8
terasa sangat melelahkan tinggal 2 kali lagi dan harus di selesaikan tetapi
Moza benar-benar tidak kuat kakinya sudah tidak kuat lagi berjalan, tetapi dia
terus mencoba hingga akhirnya semua terlihat gelap dan dunia terasa berputar
seolah mengikuti irama hingga beberapa saat kemudian dia terjatuh dan tidak
ingat apapun. Semua orang terlihat sangat ramai dan berusaha membawa moza ke
UKS. Karena kejadian itu Bu Citra merasa bersalah dan tidak akan memberi
hukuman seperti itu lagi.
Terlihat sedikit cahaya yang terus mendekati
Moza hingga akhirnya dia sadar dengan kepalanya yang terasa sangat sakit akibat
kajadian tadi. “Moza, kamu gak apa-apa?” tanya Niken kawatir. “gak apa-apa ko,
lagian Cuma pingsan doang” jawab Moza dengan suara yang lemas. Niken adalah
sahabat Moza dari kecil sampai sekarang mereka sekelas. “kalau gitu kamu pulang
saja ya” bujuk Niken. “tidak usah lagian aku masih kuat” jawab Moza pelan.
Kemauan Moza memang sangat keras, dia memang selalu teguh dengan pendapatnya.
Moza kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya. “teeeet..” bel di
bunyikan dan itu bertanda waktunya istirahat. Niken mengajak Moza ke kantin
tetapi Moza tidak ikut karena dia masih ada tugas yang belum di selesaikan.
Suasana kelas sangat sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disini.
Setelah selesai menyelesaikan tugasnya Moza mengeluarkan buku Diary miliknya
yang selalu dia bawa kemana-mana. Dia mulai menulis dengan pena biru yang
kecil.
..5 November 2011..
“Hari ini benar-benar sepi. Aku
merasa bosan dengan cara hidupku yang selalu monoton. Mungkin hanya kejadian
tadi yang membuat variasi sesaat. Di sekolah atau di rumah tidak ada yang
berbeda, aku benar-benar kesepian. Aku merasa keluargaku tidak lengkap seperti
dulu. Ayah dimana? Aku rindu Ayah. Aku ingin ke Paris. Aku tidak suka dengan
sikap Mama yang temperamental apalagi Kak Rey yang suka sibuk sendiri. Kenapa
sampai sekarang Ayah belum ada kabarnya? Apa Ayah lupa sama Moza. Ayah.. Moza
rindu Ayah”
Sedang asiknya menulis terlihat sebuah bola
voly yang menghampiri Moza. Seorang siswa laki-laki dengan penampilan yang
rapi, sepertinya dia anak baik-baik. Dia melambaikan tangan ke arah Moza. Moza
hanya bingung melihat tingkah dia yang konyol. “tolong lemparkan bolanya dong”
ucap siswa laki-laki itu. Moza mulai mengerti dengan ucapannya lalu Moza
mengambil bola dan melemparnya ke arah siswa itu “uups..” lagi-lagi kecerobohan
Moza kembali. Tidak sengaja bolanya mengenai kepalanya dan langsung saja dia
terjatuh. Saking paniknya Moza langsung menghampiri dia dan meminta maaf
kepadanya, namun bukan terima maaf yang dia dapatkan melainkan ekspresi amarah
yang di dapatkannya. “kamu itu gimana sih? Sengaja melemparku dengan bola ya?”
saut siswa itu sambil memegangi dahinya yang terasa sakit. “iya aku minta maaf,
aku gak sengaja maaf ya” jawab Moza dengan menundukkan kepala karena malu.
Entah kenapa siswa itu melihat Moza dengan pandangan yang berbeda, di
perhatikannya secara jelas dari ujung kepala sampai kaki, Moza terlihat begitu
asing baginya. “kamu bukannya anak yang tadi di hukum Bu Citra lari di lapangan
ya?” ucap siswa itu dengan penasaran. “iya, emangnya kenapa?” jawab Moza dengan
wajah yang bingung. “pantesan Bu Citra menghukum kamu, sifat kamu ceroboh kayak
gitu” ucap siswa itu dengan nada mengejek. Moza mulai tersinggung dengan
ucapannya. Siswa itu benar-benar menyebalkan, Moza mulai menjawabnya dan
menentang ucapannya. “apa..? kamu bilang aku ceroboh, kamu tuh yang ceroboh”
saut Moza kesal. Siswa itu hanya diam dan mulai mendekati Moza lebih dekat.
Moza merasa tidak nyaman dengan kondisi ini, karena sebelumnya dia tidak pernah
bertengkar dengan siswa laki-laki yang tidak di kenalnya, apalagi siswa itu
mulai mendekatinya secara perlahan. Moza mulai berfikir negatif tetapi ternyata
siswa itu hanya mengatakan sesuatu. “buktinya apa kalau aku ceroboh?” ucap
siswa itu. Moza hanya diam dan tidak bisa berkata apa-apa, dia mulai salting
dengan perbuatannya. Untung saja Niken lewat dan memanggil Moza. Jadi Moza bisa
punya alasan untuk pergi dari siswa laki-laki itu. Setelah dia pergi, karena
sifat salting Moza yang keterlaluan, Moza tidak sadar bahwa foto Ayah yang di
selipkan di buku diarynya telah jatuh dan tepat di dekat Siswa laki-laki itu.
Setelah menghampiri Niken, Moza menanyakan
tentang siswa laki-laki itu. Menurutnya hampir semua siswa di sekolah ini di
kenal oleh Niken. Mungkin saja Niken mengenal siswa itu. Dugaan Moza pun benar,
Niken memang mengenalnya dan ternyata dia bernama Fandi siswa kelas XI A.3,
sedangkan Moza dan Niken kelas XI A.5. Dari ekspresinya Moza merasa sangat
kesal saat menceritakan kejadian tadi ke Niken. Niken hanya bisa tertawa geli
saat mendengarnya. Itu benar-benar kejadian yang sangat lucu. Niken baru
pertama kali melihat Moza sangat kesal seperti itu.
* * *
Suasana malam hari yang di penuhi
dengan beribu bintang sangat di sukai oleh Moza. Dia mulai membuka diarynya
namun Moza tampak kebingungan saat foto Ayahnya tidak di temukan. Dia mencari
ke sela-sela buku tetapi tetap saja hasilnya kosong. Moza merasa sangat panik
sampai-sampai dia menelphon semua teman-temannya namun itu tetap tidak
membuahkan hasil. Moza begitu sedih saat tau foto ayah satu-satunya telah
hilang. Dia benar-benar merasa putus asa, apalagi saat mendengar suara lemparan
benda dari lantai bawah. Moza sudah menduganya pasti Mama dan Kak Rey
bertengkar lagi. Dia benar-benar tidak sanggup jika harus menyaksikan ini
setiap hari. Dia tidak kuat melihat Mama dan Kakaknya harus bertengkar terus
menerus hanya karena Kakak jarang pulang. Padahal sewaktu masih ada Ayah
keluarga Moza tidak pernah sedikit pun ada pertengkaran bahkan Kak Rey selalu
berusaha pulang secepat mungkin untuk kumpul bareng keluarga. Karena Moza ingin
memastikannya, dia segera turun ke lantai bawah untuk menemui mereka. Ternyata
benar, pertengkaran itu terjadi sangat hebat. Barang-barang berantakan
dimana-mana. Sautan Mama dan Kak Rey membuat hati Moza sangat kacau. Matanya
yang indah mulai berlinangan air mata, semakin lama Moza merasa tidak tahan
melihat kondisi ini. Dia berusaha menghentikan mereka namun yang ada ucapan
Moza tidak di perdulikan. Kericuhan itu membuat Moza merasa lemah. Wajahnya
pucat dengan kepala yang sangat sakit dirasa. Kejadian itu terulang lagi, dunia
mulai memutar hanya saja ini putaran yang sangat cepat. Moza tidak ingin tambah
merusak suasana kegaduhan itu. Dia tetap berusaha menutupi semuanya. Dia segera
pergi berjalan menuju kamar. Moza sepertinya tidak kuat berjalan tegap. Dia
terus memegangi setiap sisi dinding rumahnya. Air matanya terus berjatuhan di
pipinya. Moza sangat tidak kuat menahan rasa sakit yang di alaminya. Hingga
terjadi sesuatu hal yang tidak di sangka. Tetesan darah yang keluar dari hidung
Moza terlihat sangat deras. Moza merasa heran dengan kondisi ini. Tiba-tiba
saja dia merasa sakit mendadak, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Itu
yang membuat Moza heran.
..6 November 2011..
“Bintang indah dengarkan ceritaku.
Aku ingin bercerita tentang apa yang terjadi hari ini. Aku tidak pernah
menyangka bisa bertemu dengan siswa yang bernama Fandi itu. Dia sangat
menyebalkan. Memang apa salahnya dengan sifatku yang ceroboh. Karena dia aku
harus kehilangan foto Ayah. Belum lagi dengan suasana rumah yang sangat
membosankan. Setiap hari harus mendengar Mama dan Kak Rey bertengkar. Aku sedih
melihat mereka seperti itu. Aku ingin kembali seperti dulu, saat Mama selalu
membuatkan susu hangat untukku sebelum tidur dan Kak Rey yang selalu memberiku
hadiah. Apalagi saat aku taruhan bola dengan Ayah. Tetapi itu hanya sebuah
kenangan. Kenangan yang mungkin tidak akan pernah kembali. Baru saja aku merasa
ada sesuatu hal aneh di dalam tubuhku. Aku tidak tau apa yang terjadi. Tetapi
rasa sakit itu benar-benar telah menusukku begitu tajam. Yang pasti rasa sakit
ini tidak bisa menyaingi kerinduanku terhadap Ayah. Aku ingin ayah ada disini.
Biasanya kalau jam segini ayah selalu menggangguku belajar untuk melihat siaran
langsung pertandingan bola. Meskipun itu sangat mengganggu tetapi aku sangat
merindukan hal itu. Bintang.. tolong sampaikan pesanku kepada Ayah ya. Bilang
kalau aku sangat ingin bertemu dengan Ayah. Jika bisa aku ingin punya sayap
supaya bisa terbang ke Paris menemui Ayah. Ya Allah.. tolong lindungi Ayahku dimana
saja berada. Aku ingin dia selalu sehat dan masih mengingatku. Aku berharap
ayah bisa kembali ke rumah lagi dan bermain denganku lagi”
* * *
Pernyataan dari Dokter
membuat Moza sangat depresi. Surat yang menyatakan keterangan penyakit Moza
telah di berikannya ke Mama. Moza tidak sengaja mendengar percakapan mereka di
ruang Dokter. Surat itu menyatakan Moza positif mengidap penyakit leukimia yang
sering di sebut kanker darah. Mama terlihat menyesal saat mendengar pernyataan
Dokter itu. Mama masih tidak percaya dengan apa yang dialami Moza.
..8 November 2011..
“sudah seminggu aku tidak masuk
sekolah, karena harus menjalani pengobatan terapi rumah sakit. Aku senang
dengan sikap perubahan derastis dari Mama. Mama mulai kembali seperti dulu lagi.
Hanya saja aku belum bertemu Kak Rey pagi ini. Sepertinya dia belum pulang.
Terapi pertamaku sangat menyakitkan, semua jarum itu di tusukkan ke tubuhku.
Aku sungguh tidak kuat dengan kondisi ini. Aku harus menjalani terapi selama 3
bulan kedepan dan terus merasakan rasa sakit ini. Tapi ini tidak lebih sakit
dari kerinduanku terhadap ayah”
Seminggu menjalani pengobatan kondisi Moza
mulai membaik. Moza mulai masuk sekolah pagi ini. Sepertinya Niken begitu
kawatir dengan kondisi Moza. Mungkin Mamanya Moza yang memberitahu soal
penyakit Moza. Tapi Niken masih tetap seperti dulu, dia tidak terlihat sedih di
depan Moza. Niken berusaha untuk tidak membuat Moza sedih tentang penyakitnya
dan dia berusaha untuk tidak membuat Moza putus asa. Saat jam istirahat,
kemunculan Fandi yang tiba-tiba membuat Moza bingung. Tiba-tiba saja Fandi
menjadi sok kenal dan terus mengganggu Moza. “hai., kamu mau kemana?” ucap
Fandi sok kenal. “bukan urusan kamu, ngapain kamu kesini?” jawab Moza ketus. Moza
merasa sangat merasa terganggu dengan kehadiran Fandi siswa laki-laki yang
tidak di kenalnya. Itu membuat Moza jadi kesal dan mengingat kejadian waktu itu
lagi. “dasar perempuan galak” cetus Fandi dengan santai. “eh., mau kamu apa
sih. Udah sono pergi!” usir Moza kesal. Namun Fandi masih terlihat santai dan
sepertinya dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. “kamu merasa ada
yang hilang gak?” kata Fandi. “memangnya kenapa? bukan urusan kamu” jawab Moza.
“oh. ok!! Bukan urusan aku, tapi kayaknya ini punya kamu deh” sambil
memperlihatkan sesuatu ke Moza. Ternyata itu adalah foto ayah Moza yang hilang.
“ini kan foto ayah aku, kenapa ada di kamu?” tanya Moza dengan wajah yang
kaget. “aku menemukannya di lapangan dan ada tulisan nama kamu disini” jawab
Fandi. “kalau begitu sini balikin punya aku” ucap Moza sambil ingin mengambil
foto itu dari tangan Fandi. Tetapi Fandi tidak memberikan foto itu. “tidak
boleh, kamu gak bisa ngambil gitu aja dong” kata Fandi dengan santai. “kenapa?
balikin gak, pokoknya balikin punya aku!!” ucap Moza marah. “tetap tidak bisa,
aku balikinnya nanti saja” jawab Fandi. Moza sangat merasa kesal dengan ucapan
Fandi. “Fandi…..!! kamu nyebelin” saut Moza kesal”. Fandi hanya terdiam sejenak
dan berkata sesuatu. “kamu tau nama aku dari siapa?” tanya Fandi penasaran.
“bukan dari siapa-siapa, yang jelas aku tau siapa kamu dan kamu gak bisa
macem-macem lagi ke aku” jawab Moza. “oh.. gitu” ucapan terakhir Fandi yang
bikin Moza tidak bisa berbicara apa-apa. Lalu Fandi langsung pergi begitu saja.
..20 November 2011..
“dear diary.. hari ini benar-benar
menyebalkan. Belakangan ini Fandi sok kenal banget sama aku. Aku sebel sama
sikap dia yang seperti itu. Apa sih keuntungan dia kalau ngisengin aku?
Memangnya dia tidak punya teman lain yang bisa di isengin. Apalagi saat pertama
yang paling membuatku kesal saat foto ayah ada di dia dan dia tidak mau
mengembalikan fotonya ke aku. Gara-gara bola voly aku harus berurusan dengan
dia. Kemana saja aku pergi pasti selalu ada dia. Bosen aku kalau setiap sekolah
harus bertemu dia. Tapi kenapa dia bisa tau nama aku Moza ya? Hem.. biarin lah
terserah dia mau ngapain, asalkan foto ayah jangan di apa-apain. Malam ini Kak
Rey pulang tidak seperti biasanya. Dia langsung menghampiri Mama dan aku untuk
meminta maaf atas perbuatannya selama ini. Aku bingung dengan perubahan dia dan
mama yang berbeda. Tapi aku senang, setidaknya aku merasa keluargaku lengkap
kembali walaupun ayah tidak ada”
..23 Desember 2011..
“suasana malam ini terasa begitu
damai. Semakin lama penyakitku semakin berkembang. Semakin berkurang juga
umurku untuk hidup di dunia. Proses terapi itu tidak ada gunanya. Aku hanya
merasakan sembuh sesaat. Pada akhirnya aku tetap memiliki penyakit ini. Kanker
ini membuatku kehilangan banyak darah dan menjadi sering tidak masuk sekolah.
Aku tidak bisa melawan penyakit ini. Kanker ini telah menguasai tubuhku dan
merusak sistem syaraf aku. Semakin lama aku makin susah berjalan dan semakin
lama aku sulit untuk bernafas. Aku tau, aku tidak boleh putus asa tetapi aku
tidak tahan jika harus terus-terusan menahan rasa sakit. Dan aku bosan meminum
obat sebanyak itu. Aku merasa tidak nyaman jika darahku terus keluar saat
menulis Diary. Tidak kuat rasanya saat melihat Mama terus-terusan menangis di
kamarnya dan teman-teman yang begitu melihatku dengan wajah yang kusam, sama
sekali tidak ada ekspresi kegembiraan. Itu semua membuat aku merasa sangat
membebani mereka”
..27 Desember 2011..
“sekarang kaki aku tidak bisa di
gerakan. Rasanya seperti di selimuti seribu rayap yang terus menggigitku. Hanya
tangan kiri yang masih berfungsi normal Apalagi berat badan aku turun 8 kg. Aku
benar-benar kekurangan darah saat ini. Golongan darah aku hanya cocok dengan
ayah tetapi karena ayah tidak disini pihak rumah sakit masih mencari darah yang
cocok untukku. Mama membelikan kursi roda untuk aku pakai. Aku tidak ingin
memakai itu karena aku masih bisa untuk melakukannya sendiri. Aku tidak ingin
merepotkan orang lain tetapi mama tetap memaksa dan aku harus menurut dengan perintah
mama”
Hari ke hari Moza tidak bisa beraktifitas
lagi seperti biasanya. Padahal dia sering banget naik ke atas genting hanya
untuk melihat bintang. Namun rasanya sekarang mustahil. Dia hanya bisa
melihatnya bersandar di kursi roda. Tetesan air mata mulai membasuhi wajah Moza
yang mungil dia berpikir mungkin hanya tinggal menghitung hari dia tidak bisa
melihat bintang indah lagi. Semakin lama Moza susah untuk berbicara. Dia hanya
bisa menulis, itu pun dengan tangan kiri.
* * *
Pagi ini Niken menjenguk Moza yang ke sekian
kalinya. Terlihat sepertinya Niken tidak sendiri tetapi bersama orang lain. Dia
membawa Fandi, anehnya Moza tidak kaget dengan keberadaan Fandi, dia hanya bisa
tersenyum di kursi rodanya. “Moza., sebelumnya aku minta maaf ke kamu. Aku baru
bisa datang sekarang, aku mau ngasih foto ini. Sebenernya aku sama sekali gak
ada niat mau isengin kamu. Aku Cuma mau kenal kamu aja. Moza, kamu kapan
sembuh? Sekolah sepi tidak ada kamu. Jangan sedih terus, aku akan selalu jadi
teman yang terbaik buat kamu” ucap Fandi panjang lebar. Moza hanya bisa
tersenyum dengan kata-kata Fandi, Moza sulit untuk mengucapkan kata-kata.
Selama dia sakit, Moza belum pernah tersenyum seperti ini. Kondisi Moza semakin
parah, dia tidak bisa bernafas dengan normal. Moza langsung menulis sesuatu di
kertas kecil dan di lemparkan ke Niken “Aku titip diary aku ke kamu” itu
tulisan Moza yang di baca Niken. Tidak di sangka Moza menghembuskan nafas
terakhirnya tepat jam 8 pagi. Semua tangisan di kediaman Moza sangat terdengar
ramai. Niken dan Fandi sangat merasa kehilangan Moza teman baiknya.
..28 Desember 2011..
“Aku teringat saat masa kecilku.
Ayah pernah berkata ‘hidup itu hanya sementara’. Aku bahagia karena penyakitku
keluarga telah kembali. Niken sahabatku, bahagia rasanya hidup bertemu
denganmu. Aku tidak membenci Fandi, dia hanya teman yang aneh untukku, tapi aku
senang bertemu dengannya. Aku jadi memiliki variasi hidup yang tidak di miliki
orang lain. Kini impianku ke Paris telah musnah saat kanker itu datang.
Sekarang aku ingin pergi.., aku ingin bertemu ayah lewat tidurku yang panjang.
Bintang di langit, aku harap bisa melihatmu kembali. Semua harapanku, semua
keinginanku, keluargaku, sudah aku dapatkan semua. Terima kasih Ya Allah,
engkau telah memberiku kesempatan untuk menulis semua cerita di diary ini.
Sekarang aku harus menutupnya dan biarkan ini menjadi kenangan untukku
selamanya…” “Moza Alinka”
Isi diary terakhir yang di
tulis Moza. Niken merasa sangat kehilangan sahabat baiknya. Cerita tentang Moza
telah di simpan dan di jadikan kenangan dalam memori Niken dan Fandi untuk
selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar